Atap Seng Veteran dan Persembahan Kasih Dari Grhadika
Malam di Grhadika Bhakti Praja, Jumat (9/1/2026), bukan sekadar perayaan liturgi yang riuh dengan kidung pujian. Di balik pendar lampu kristal dan kehangatan suasana Natal 2025 serta Tahun Baru 2026, ada gurat kelegaan yang nyata di wajah Bambang Agus Suranto.
Lelaki senja berusia 83 tahun itu berdiri tegak, meski langkahnya tak lagi segegas dulu. Sebagai seorang veteran pejuang kemerdekaan, Bambang telah melewati banyak badai sejarah. Namun, "badai" yang paling setia menemaninya belakangan ini justru berada di bawah atap rumahnya sendiri di Tawangmangu, Karanganyar.
“Dinding dan atap rumah saya dari seng. Hampir semuanya barang bekas,” bisik Bambang lirih. Baginya, setiap rintik hujan di lereng Lawu adalah kecemasan, dan setiap hembusan angin adalah gigil yang menembus pori-pori tua.
Malam itu, nasib baik mengetuk pintunya. Di hadapan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, dan Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko, Bambang menerima bantuan stimulan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebesar Rp20 juta. Angka itu mungkin kecil bagi pembangunan gedung pencakar langit, namun bagi Bambang, itu adalah martabat. Itu adalah janji bahwa di masa senjanya, ia tak lagi harus berteman dengan bocor dan karat.
Embrio Negara dan Napas Toleransi
Gubernur Ahmad Luthfi dalam sambutannya menekankan bahwa tema Natal "Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga" adalah sebuah manifesto kebangsaan. Keluarga, menurut Luthfi, adalah embrio negara. Rumah yang layak adalah fondasi utama agar keluarga bisa tumbuh kuat.
"Dari keluarga yang kuat akan lahir fondasi provinsi yang kokoh," tegasnya.
Namun, yang membuat malam itu terasa berbeda adalah keterlibatan Bankris (Badan Amal Kasih Kristiani). Jika umat Islam memiliki Baznas, maka ASN Kristiani di lingkup Pemprov Jateng memiliki Bankris sebagai wadah gotong royong. Malam itu, bukan hanya seremoni yang diluncurkan, melainkan sebuah lompatan digital bernama Si Dia Baik (Sistem Informasi Badan Amal Kasih Kristiani).
Aplikasi ini menjadi jembatan transparansi bagi persembahan para ASN yang hingga kini telah menghimpun dana sebesar Rp590 juta. Dana inilah yang kemudian "menjelma" menjadi batu bata, semen, dan atap yang layak bagi warga seperti Bambang dan Filipus Sutarno dari Wonogiri.
Melintasi Sekat Keyakinan
Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, yang akrab disapa Gus Yasin, tampak tersenyum melihat inisiatif ini. Baginya, empati tidak mengenal batas rumah ibadah. Ia membayangkan masa depan di mana setiap penganut agama memiliki sistem serupa untuk memperkuat kesejahteraan bersama.
Ketua Panitia Natal, Hanung Triyono, memaparkan bahwa aksi ini bukan gerakan instan. Ada rekam jejak panjang di baliknya: kunjungan ke 12 gereja, bakti sosial di panti-panti, hingga penggalangan dana Rp75 juta untuk korban bencana di Sumatera.
Bagi Bambang Agus Suranto, bantuan RTLH ini adalah kado Natal dan Tahun Baru yang melampaui ekspektasi. Saat ia kembali ke Tawangmangu nanti, ia tidak hanya membawa bantuan uang, tapi juga membawa kabar bahwa negara dan sesama masih peduli pada mereka yang pernah bertaruh nyawa demi merah putih.
Di Grhadika malam itu, Natal bukan lagi sekadar perayaan agama, melainkan sebuah simfoni kemanusiaan yang mengetuk pintu rumah-rumah reyot agar mereka kembali layak dihuni.
