Strategi Luthfi-Yasin Mengonversi Infrastruktur 2025 Menjadi Kesejahteraan di 2026

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memberikan pemaparan mengenai target kesejahteraan rakyat dan swasembada pangan dalam agenda Refleksi Akhir Tahun 2025, didampingi oleh Taj Yasin Maimoen

Di balik riuhnya mesin penggilas aspal dan megahnya beton-beton yang tersambung sepanjang tahun 2025, ada satu detak jantung yang menjadi alasan tunggal semua itu dilakukan: kesejahteraan rakyat Jawa Tengah. Bagi Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin, infrastruktur bukanlah monumen kesuksesan, melainkan "jembatan" bagi petani di pelosok Kedungtuban hingga buruh pabrik di pesisir utara untuk meraih hidup yang lebih layak.

Dalam keheningan acara Refleksi Akhir Tahun di Grhadika Bhakti Praja, Luthfi menegaskan bahwa tahun 2025 adalah tahun penyemaian. Infrastruktur sumber daya manusia, sarana jalan, hingga sistem pengairan pertanian sengaja disiapkan sebagai fondasi agar di tahun 2026, Jawa Tengah bisa benar-benar "lepas landas" menuju kemakmuran yang lebih merata.

"Arah pembangunan sudah jelas. 2026 nanti, kita take off kepada program yang lebih berkepentingan atau berpihak kepada rakyat," tutur Luthfi dengan sorot mata optimis.

Bukan tanpa bukti, keberpihakan ini sudah mulai dirasakan. Angka kemiskinan yang menyusut menjadi 9,48% dan tingkat pengangguran yang terus ditekan hingga 4,66% adalah sinyal bahwa ekonomi mulai berdenyut di rumah-rumah warga. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang mencapai 5,37%—melampaui angka nasional—bukan sekadar prestasi di atas kertas, melainkan representasi dari 326 ribu lebih lapangan kerja baru yang terbuka sepanjang tahun.

Menatap 2026, janji kesejahteraan rakyat itu kian konkret. Jawa Tengah diproyeksikan menjadi lumbung pangan nasional. Artinya, petani bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan pilar utama industri nasional. Dengan infrastruktur pertanian yang telah rampung dibangun di 2025, para petani diharapkan tak lagi terkendala distribusi maupun pengairan, sehingga hasil jerih payah mereka bisa langsung dirasakan oleh dapur keluarga masing-masing.

Peta jalan telah digelar, doa telah dipanjatkan. Kini, Jawa Tengah bersiap menyambut 2026 bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan keyakinan bahwa setiap pembangunan yang dilakukan adalah demi senyum yang lebih lebar di wajah rakyatnya.