Negara Hadir di Balik Puing Lewat BLTS, Saat Daun-Daun Tak Lagi Gemetar

Foto Menteri Sosial Saifullah Yusuf saat memberikan paparan Refleksi Akhir Tahun 2025 di Jakarta, membahas capaian penyaluran bantuan sosial bagi korban bencana di Sumatera.

JAKARTA – Di ujung tahun 2025, langit di atas tanah Sumatera tampak lebih muram dari biasanya. Di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, alam seolah sedang bercerita tentang kepiluan. Daun-daun di dahan pepohonan yang tersisa tak lagi sekadar bergoyang ditiup angin; mereka tampak gemetar, merunduk lesu menyaksikan tanah yang terbelah dan rumah-rumah yang kehilangan atapnya. Namun, di tengah sisa-sisa amuk alam itu, sebuah kabar hangat perlahan mengalir, mencoba menghentikan getar ketakutan pada daun-daun kehidupan masyarakatnya.

Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf—yang akrab disapa Gus Ipul—berdiri di podium Gedung Aneka Bhakti Kemensos, Rabu (31/12). Dalam Refleksi Akhir Tahun tersebut, ia membawa kabar tentang Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLTS). Ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan napas buatan bagi mereka yang saat ini hanya bisa bernaung di bawah tenda-tenda pengungsian.

Perjuangan Melawan Medan

Gus Ipul mengungkapkan bahwa di Aceh, napas bantuan itu telah terhirup oleh 88 persen penerima. Sementara di Sumatera Barat dan Sumatera Utara, angka tersebut masih berjuang di kisaran 82 hingga 83 persen. Angka-angka ini tidak didapat dengan mudah.

"Akses menuju beberapa kabupaten/kota belum semuanya bisa ditembus," ujar Gus Ipul dengan nada yang dalam.

Bayangkan saja, saat listrik padam dan sinyal internet menghilang ditelan badai, petugas Pos dan relawan tetap merayap menembus lumpur. Di Aceh Tamiang, bahkan ada tiga kantor Pos yang masih membisu, tak berdaya untuk beroperasi karena luka bencana yang terlalu dalam. Di sana, daun-daun hutan yang lebat seolah menjadi saksi betapa kerasnya perjuangan manusia mengantarkan hak bagi sesamanya.

Tak Sebatas Rutinitas

BLTS ini bukanlah bantuan reguler yang biasa datang tiap musim. Ia adalah respons darurat, sebuah "BLTS Kesra" yang menyasar lebih dari 35 juta penerima secara nasional—melonjak jauh dari skema reguler yang biasanya hanya 18 juta keluarga. Hingga hari ini, lebih dari 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) telah terverifikasi sebagai mereka yang paling layak untuk dibantu.

Secara nasional, penyaluran memang telah menyentuh angka 97 persen. Namun, bagi Gus Ipul, sisa beberapa persen di wilayah bencana adalah pertaruhan kemanusiaan yang paling nyata. Di sana, infrastruktur mungkin lumpuh, tapi kerja sama antara Himbara, PT Pos, relawan, dan pemerintah daerah tetap berdenyut kencang.

Kini, saat kalender berganti, harapan adalah agar bantuan tersebut mampu membuat "daun-daun" di Sumatera tak lagi gemetar karena lapar atau dingin. Langit mungkin masih menyimpan mendung, namun tangan-tangan negara sedang bekerja keras memastikan bahwa setiap warga terdampak tak dibiarkan layu sendirian di tengah bencana.