Mitigasi Bencana, Ancaman "Akar Sol" di Jantung Hutan Jati Blora

Pohon jati besar yang tumbang dengan akar tercabut dari tanah yang basah dan gembur di pemukiman warga Blora.

Waspada Ancaman 'Akar Sol', Seruan Keselamatan dari Pelosok Sambong

SAMBONG – Sejak penghujung 2025 hingga pertengahan Januari 2026, langit di atas Kabupaten Blora seolah tak berhenti menumpahkan air. Intensitas hujan yang jauh melampaui statistik tahun lalu ini membawa ancaman senyap bagi warga di wilayah Cepu Raya, fenomena "akar sol" pada tegakan jati.

Kondisi tanah yang labil, jenuh air akibat guyuran hujan nonstop sejak Jumat (9/1) hingga Senin (12/1), membuat cengkeraman akar pohon jati—bahkan yang berukuran raksasa sekalipun—menjadi rapuh. Kejadian terbaru yang menimpa kediaman Arief Wicaksono, Pemimpin Redaksi Bloraweb di Bangkle, menjadi bukti nyata bahwa ancaman ini tidak memandang lokasi, baik di pinggiran hutan maupun pemukiman kota.

Kondisi tanah jenuh air di wilayah Sambong, Blora, yang memicu fenomena pohon jati tumbang akibat akar tidak mampu menopang beban tajuk

Langkah Preventif, Pangkas Beban, Dengar Suara Alam 

Petugas Unit Pemberdayaan Masyarakat (Dayamas) Kecamatan Sambong, Heri ireng, secara proaktif mengajak kepolisian, perangkat desa, dan tokoh masyarakat untuk bersatu menggaungkan kewaspadaan.

"Kami menghimbau warga yang memiliki pohon jati di sekitar hunian untuk segera melakukan pemangkasan dahan dan ranting. Ini krusial untuk mengurangi beban mekanis yang harus ditopang akar, terutama saat angin kencang menerjang," tegas Heri.

Bagi warga yang bermukim di lereng hutan, seperti di Desa Ledok, kewaspadaan mandiri adalah kunci. Warga disarankan untuk mengurangi volume elektronik (TV/Musik) agar lebih peka terhadap suara gemerisik angin yang tidak wajar atau suara retakan tanah. Membaca pergerakan akar secara visual jika memungkinkan, serta kesiapan evakuasi mandiri, menjadi langkah terakhir untuk menghindari jatuhnya korban jiwa.

Titik Rawan, Dari Warung Pinggir Jalan hingga Sumur Minyak Tua 

Perhatian khusus tertuju pada wilayah strategis sepanjang jalan nasional, mulai dari Pos DX Sambongrejo hingga Brug Brosot. Para pelaku UMKM yang beraktivitas di bawah tegakan jati berusia puluhan tahun diminta tidak lengah. Beban tajuk pohon yang berat di atas lahan Perhutani tersebut menyimpan risiko tinggi di tengah cuaca ekstrem ini.

Risiko yang sama juga membayangi para penambang minyak tradisional di sumur tua Desa Ledok serta para petani pesanggem. Lokasi kerja mereka yang berada tepat di bawah naungan jati besar menjadikan mereka kelompok paling rentan.

"Kita harus bergerak cepat agar tidak ada lagi penambahan angka Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) baru akibat bencana alam yang sebenarnya bisa kita antisipasi risikonya," pungkas Heri ireng.