Menjemput Semangat Tegalrejo ke Tanah Jati, Mengapa Diponegoro Relevan bagi Warga Cepu Raya?
Gema Tegalrejo di Tanah Jati, Relevansi Perjuangan Diponegoro bagi Kemandirian Daerah
CEPU RAYA – Jarak antara Ndalem Tegalrejo di Yogyakarta dengan hamparan hutan jati di wilayah Randublatung atau Jati mungkin terbentang sejauh ratusan kilometer. Namun, dalam denyut nadi sejarah dan tarikan napas perjuangan, keduanya terhubung oleh satu benang merah yang tak kunjung putus, Martabat.
Saat Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono bersimpuh dalam Haul ke-171 Pangeran Diponegoro (8/1/2026), pesannya bergema melintasi batas geografis, mendarat tepat di jantung Cepu Raya. Ia berbicara tentang manunggalnya seorang pemimpin dengan rakyat, sebuah nilai yang seharusnya menjadi cermin bagi kita yang hidup di antara tegakan jati dan deru mesin pompa minyak tua.
Spirit Manunggal, Antara Jubah Putih dan Tanah Padas
Pangeran Diponegoro bukan sekadar nama dalam buku teks sejarah. Beliau adalah representasi dari sebuah pilihan sadar, meninggalkan zona nyaman keraton untuk berkawan dengan lumpur dan peluru. Di Cepu Raya, spirit ini adalah pengingat yang menyengat. Kita adalah masyarakat yang akrab dengan kerasnya alam. Dari Sambong hingga Kedungtuban, hidup adalah tentang bagaimana kita manunggal dengan tanah.
Ketika Wamensos menyebut jati diri bangsa adalah "peka terhadap penderitaan rakyat", ia sedang mengetuk pintu nurani para pemangku kebijakan di daerah kita. Relevansinya jelas, Kepemimpinan di wilayah Cepu Raya tidak boleh hanya bersemayam di balik meja-meja birokrasi yang dingin. Ia harus hadir di pasar-pasar tumpah, di gubuk-gubuk petani Kedungtuban, dan di tengah kerumunan buruh hutan yang peluhnya adalah tinta sejarah kemandirian kita.
Mikul Duwur, Mendem Jero, Menata Marwah di Tanah Perbatasan
Falsafah Mikul Duwur, Mendem Jero yang ditekankan dalam haul tersebut membawa pesan rekonsiliasi bagi warga Cepu Raya. Sebagai wilayah yang sering kali menjadi "halaman belakang" dari dua provinsi besar, kita diajarkan untuk memikul harapan leluhur—yakni kedaulatan—sambil mengubur dalam-dalam ego kedaerahan yang memecah belah.
Persatuan yang ditekankan Presiden Prabowo melalui Wamensos adalah kunci bagi kita untuk menghadapi ketidakpastian dunia. Bagi warga Cepu Raya, persatuan berarti kolektivitas dalam menjaga sumber daya alam. Jika Diponegoro melawan karena patok-patok Belanda merusak makam leluhurnya, maka warga Cepu Raya hari ini melawan lewat cara menjaga tanahnya dari eksploitasi yang tidak menyejahterakan rakyat kecil.
Dari Tegalrejo ke Lumbung Pangan Kedungtuban
Ada hal teknis yang menarik dalam pidato Agus Jabo, soal kemandirian pangan dan Sekolah Rakyat. Di sinilah relevansi paling konkret bagi kita. Kedungtuban dan sekitarnya adalah urat nadi pangan. Jika spirit Diponegoro adalah kemandirian, maka modernisasi pertanian di wilayah kita haruslah berhulu pada kesejahteraan petani lokal, bukan sekadar angka-angka statistik pertumbuhan.
Program "Makan Bergizi Gratis" atau "Kampung Nelayan" yang disinggung pemerintah harus kita maknai sebagai peluang emas bagi sektor agraris dan perikanan darat di wilayah kita untuk naik kelas. Kita tidak ingin hanya menjadi penonton dalam pembangunan; kita ingin menjadi aktor utama yang berdikari, persis seperti visi Sang Pangeran.
Ritual yang Menjadi Aktual
Haul bukan sekadar tentang dupa dan doa yang menguap ke langit. Haul adalah alarm. Bagi warga Cepu Raya, mengenang Diponegoro berarti menanamkan kembali rasa "memiliki" terhadap tanah air.
Jika di Tegalrejo negara menyalurkan santunan sebagai wujud kasih, maka di Cepu Raya, kasih itu harus mewujud dalam kebijakan yang berpihak pada mereka yang rentan. Di bawah bayang-bayang pohon jati yang kokoh, mari kita jemput semangat Tegalrejo itu. Agar kita tak hanya mewarisi nama besarnya, tapi juga mewarisi keberaniannya untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri.
Sebab pada akhirnya, menjadi "Orang Jawa yang Sejati" sebagaimana kata Agus Jabo, adalah mereka yang tahu kapan harus diam dalam doa, dan kapan harus bangkit melawan ketidakadilan dengan penuh martabat.
