Jejak Sunyi Prajurit Diponegoro di Sambong Korelasinya dengan Semangat Sosial

Wamen Agus Jabo Priyono menyatu manunggal dengan Pemerlu Atensi Sosial pada Haul Pangeran Diponegoro di Tegalrejo

Sumpah Setia di Hutan Jati, Menelusuri Jejak Prajurit Diponegoro dan Ajaran Manunggal di Sambong

SAMBONG – Sejarah seringkali hanya mencatat akhir perlawanan Pangeran Diponegoro di meja perundingan Magelang tahun 1830. Namun, bagi warga Desa Biting dan Desa Giyanti di Kecamatan Sambong, perang itu tak pernah benar-benar usai. Ia hanya berganti rupa; dari dentuman meriam menjadi keteguhan zikir dan ajaran luhur yang meresap ke dalam pori-pori tanah jati.

Ketika Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono berbicara tentang sosok Diponegoro yang manunggal dengan rakyat di Haul ke-171 (8/1/2026), sejatinya beliau sedang membicarakan napas kehidupan yang masih berdenyut di dukuh-dukuh kita. Di Sambong, spirit Tegalrejo itu bernama Mbah Sumo Mbito dan Mbah Trunoloyo.

Pelarian yang Menjadi Akar, Dari Tegalrejo ke Desa Biting

Mbah Sumo Mbito bukan sekadar nama di sebuah nisan di Desa Biting. Beliau adalah saksi hidup dari pengkhianatan de Kock di Magelang. Sebagai prajurit setia, penangkapan Sang Pangeran adalah luka yang dibawa hingga ke pedalaman Blora. Tanpa keturunan, Mbah Sumo Mbito mewariskan sesuatu yang lebih abadi dari darah, sebuah konsistensi perjuangan dalam kesunyian.

Di sisi lain, di Dukuh Ringinanom, Desa Giyanti, Mbah Trunoloyo menanamkan akar yang berbeda. Lewat garis keturunannya yang masih ada hingga kini, beliau meninggalkan ajaran Islam Kejawen yang eksklusif dan sakral. Ini bukan sekadar ritual, melainkan cara para prajurit Diponegoro bertahan hidup di bawah radar penjajah—sebuah bentuk perlawanan kultural yang menjaga jati diri agar tak luntur ditelan zaman.

Manunggal, Antara Ajaran Spiritual dan Keadilan Sosial

Menarik apa yang disampaikan Wamensos tentang konsep "Manunggal". Di Dukuh Krajan, Desa Giyanti, ajaran Kepercayaan "Manunggal" yang hidup di masyarakat menemukan relevansi politik-sosialnya hari ini.

Manunggal bukan hanya bersatunya hamba dengan Tuhan, tetapi sebagaimana kata Agus Jabo, adalah "menyatu dengan penderitaan rakyat". Spiritualitas di Giyanti dan Biting tidak boleh berhenti sebagai "Wisata Spiritual" yang dingin dan hanya mengejar angka kunjungan.

"Pangeran Diponegoro bukanlah pencari kekuasaan, melainkan simbol kebijaksanaan yang berpihak pada rakyat," ujar Agus Jabo. Maka, pembangunan akses jalan menuju Makam Mbah Trunoloyo melalui Dana Desa harus dimaknai sebagai upaya sosial untuk mengangkat martabat ekonomi warga sekitar, bukan sekadar memoles nisan.

Menyisipkan Perjuangan ke dalam Dana Desa

Relevansi perjuangan sosial di Sambong saat ini adalah bagaimana nilai-nilai "Manunggal" itu mewujud dalam gotong royong. Dana Desa yang dialokasikan untuk infrastruktur wisata religi adalah bentuk modern dari nguri-uri nilai leluhur. Namun, perjuangan sebenarnya adalah memastikan bahwa pembangunan tersebut membawa "kebahagiaan lahir dan batin" bagi masyarakat setempat—sebuah cita-cita yang juga ditekankan oleh Presiden Prabowo.

Jika dulu Mbah Sumo Mbito dan Mbah Trunoloyo berjuang dengan pedang untuk melindungi kedaulatan, kini warga Sambong berjuang melalui pemberdayaan sosial. Mengubah ajaran sakral menjadi energi produktif untuk mengentaskan kemiskinan, memperkuat sekolah rakyat, dan memastikan setiap anak di desa mendapatkan gizi yang cukup.

Kembali ke Jati Diri

Sambong adalah benteng terakhir dari nilai-nilai Tegalrejo yang terserak. Melalui refleksi Haul ke-171 ini, kita diingatkan bahwa menjadi "Prajurit Diponegoro" di era modern berarti menjadi manusia yang peka.

Kita tidak lagi bersembunyi di hutan dari kejaran Belanda, tapi kita sedang berjuang melawan ketidakpastian dunia dengan senjata persatuan. Di antara makam Mbah Sumo Mbito yang sunyi dan garis keturunan Mbah Trunoloyo yang lestari, spirit Manunggal itu memanggil kita untuk kembali bekerja, berbakti, dan peduli pada sesama.