Menjadikan Desa sebagai "Rumah Kebahagiaan", Memuliakan Martabat dari Pelosok Jawa Tengah
BOYOLALI – Di bawah naungan atap kayu jati Pendopo Gedhe Kabupaten Boyolali yang megah, sebuah visi besar tentang masa depan akar rumput Indonesia dibentangkan. Rabu (14/1/2026), dalam rangkaian Peringatan Hari Desa Nasional, suasana terasa khidmat namun penuh energi. Ratusan Kepala Desa dari berbagai penjuru tanah air berkumpul, namun perhatian utama tertuju pada sosok yang memimpin provinsi dengan jumlah desa terbanyak di Indonesia, Ahmad Luthfi.
Gubernur Jawa Tengah itu berdiri bukan sekadar sebagai pembicara, melainkan sebagai seorang dirigen yang sedang menyelaraskan simfoni pembangunan bagi 7.810 desa. Namun kali ini, narasinya bukan hanya tentang infrastruktur, melainkan tentang bagaimana desa harus menjadi tempat di mana setiap nyawa merasa diayomi.
Strategi "Keroyok Rame-Rame"
Bagi Luthfi, kemiskinan dan ketimpangan sosial adalah musuh yang terlalu besar untuk dihadapi sendirian. Ia memperkenalkan filosofi "keroyok rame-rame"—sebuah prinsip kolaborasi total yang melampaui sekat birokrasi.
“Kemiskinan tidak bisa diperangi dengan salah satu unsur saja,” tegas Luthfi dengan nada mantap. “Harus kita keroyok rame-rame oleh pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, hingga kementerian. Semua harus terintegrasi.”
Logika "keroyok" ini menjadi angin segar bagi wilayah perbatasan seperti Cepu Raya. Di wilayah yang membentang dari Sambong, Kedungtuban, hingga Randublatung, integrasi kebijakan antara sektor pertanian, energi, dan sosial adalah kunci agar pembangunan tidak hanya menyentuh pusat kota, tapi meresap hingga ke gang-gang sempit di desa terpencil.
Daulat Pangan dan Energi dari Akar Rumput
Data yang dipaparkan Luthfi menggambarkan betapa perkasanya desa jika potensinya dikelola dengan tepat. Jawa Tengah kini memiliki 334 desa lumbung pangan dan sentra jagung yang mampu memproduksi 3,69 juta ton pada tahun 2025. Tak hanya itu, capaian Desa Mandiri Energi (DME) yang kini merambah ke 2.331 desa menunjukkan bahwa desa bukan lagi sekadar konsumen, melainkan produsen masa depan.
“Semua desa di Jawa Tengah itu berbeda. Ada yang punya potensi wisata, produk unggulan, hingga kearifan lokal,” tambah Luthfi. Pesannya jelas, kemajuan desa harus tumbuh dari kekuatannya sendiri, bukan sekadar meniru kota.
Memuliakan yang Terlupakan, Harapan bagi PPKS dan PSKS
Namun, di balik kemegahan angka produksi jagung dan energi, terselip sebuah komitmen moral yang mendalam. Luthfi menegaskan bahwa muara dari semua pembangunan ini adalah mereduksi angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan nyata.
Di sinilah muncul harapan baru bagi para Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Pembangunan desa kini diarahkan untuk lebih inklusif—memastikan lansia telantar, penyandang disabilitas, dan anak-anak dari keluarga rentan di pelosok desa tidak lagi terpinggirkan. Desa yang mandiri secara ekonomi diharapkan memiliki "tangan" yang lebih kuat untuk merangkul mereka yang selama ini hanya bisa menunggu uluran bantuan.
Harapan ini kian benderang dengan bangkitnya Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) di tiap desa. Saat Karang Taruna, TKSK, dan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) diberikan ruang dan dukungan kebijakan yang luas, mereka bertransformasi menjadi garda terdepan yang mendeteksi luka sosial di lingkungannya. Inilah semangat Happy Village atau Desa Bahagia yang disampaikan oleh Dirjen Bina Pemerintahan Desa, La Ode Ahmad P. Bolombo—sebuah desa yang tidak hanya makmur secara materi, tapi juga hangat secara sosial.
Menuju Indonesia Emas dari Halaman Rumah
Ketika acara di Pendopo Gedhe itu berakhir, sebuah optimisme tertinggal. Bahwa jika desa-desa di Kradenan, Jati, dan ribuan desa lainnya di Jawa Tengah mampu mengelola potensinya sambil tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan, maka kemiskinan bukan lagi hal yang mustahil untuk dikalahkan.
Visi Ahmad Luthfi adalah ajakan untuk melihat desa sebagai subjek peradaban. Sebuah masa depan di mana tiap desa memiliki kekuatan mandiri untuk menyembuhkan luka sosialnya sendiri, memuliakan warganya yang paling rentan, dan membuktikan bahwa kesejahteraan sejati adalah ketika tidak ada satu pun warga yang tertinggal di belakang.
