Spirit 2026, Mengunyah Filosofi "Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul" di Gang Perdamaian
BLORA – Di sebuah sudut Gang Perdamaian, Kelurahan Karangjati, aroma nasi hangat dan kepulan doa membumbung tinggi menyambut fajar kedua di tahun 2026. Bukan di hotel berbintang, melainkan di Cafe Kuma, sekelompok pria dengan gurat wajah legam diterpa matahari duduk melingkar. Mereka adalah para penarik becak Perumnas Karangjati yang hari itu diundang oleh Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA, mantan legislator Blora yang memilih merayakan tahun baru dengan cara membumi.
Pertemuan itu bukan sekadar jamuan makan. Di balik denting sendok dan gelas, terselip sebuah misi besar, membumikan kembali filosofi Jawa yang kian tergerus zaman, “Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul.”
Persatuan di Atas Piring Makan
Bambang Sulistya menegaskan bahwa momentum 2026 harus menjadi titik balik kepekaan sosial. Menurutnya, warisan leluhur tentang kebersamaan bukan berarti mengajak orang untuk malas atau pasrah pada kemiskinan.
"Kalau ditelaah mendalam, ada kandungan pencerahan di sana. Ini tentang prinsip persatuan, sensasi senasib sepenanggungan, dan menumbuhkan guyub rukun paseduluran sak lawase," ujar Bambang dengan nada rendah namun mantap.
Ia menyitir bagaimana tokoh nasional seperti Presiden RI ke-6 SBY dengan slogan “Bersama Kita Bisa” hingga Ketua DPR RI Puan Maharani pernah menekankan pentingnya kearifan lokal ini. Intinya satu, kebersamaan harus diletakkan di atas kepentingan pribadi.
Asa yang Tertinggal di Roda Becak
Namun, di tengah diskusi filosofis itu, realitas pahit menyeruak. Sadikin, Moh Asrok, Mujono, dan Suparman—perwakilan penarik becak yang hadir—mulai menumpahkan "uneg-uneg" mereka. Di balik senyum menyambut tahun baru, ada keresahan tentang roda kehidupan yang kian berat.
Topik hangat yang mereka bicarakan adalah janji bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto. Meski pada Desember 2025 lalu Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, telah menyerahkan 100 unit becak listrik, nyatanya para penarik becak di pangkalan Perumnas Karangjati ini masih harus "menggenjot" keringat secara manual.
"Kami sudah kumpul KTP, katanya tahap kedua. Tapi sampai sekarang belum ada kabar lagi," keluh salah satu dari mereka.
Mendengar hal itu, Bambang Sulistya tidak tinggal diam. Ia mencatat setiap keluhan tersebut sebagai oleh-oleh politik yang akan disampaikan langsung kepada Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman. "Semoga bantuan tahap kedua untuk domisili Karangjati segera terealisasi," janjinya yang disambut binar mata para penarik becak.
Menuju Blora yang Misuwur
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Modin setempat. Di bawah langit Karangjati yang cerah, mereka berharap tahun 2026 bukan sekadar pergantian angka di kalender, melainkan tahun di mana perut kenyang dan hati tenang karena kebersamaan yang terjaga.
Harapan pun dilambungkan, semoga Blora semakin maju, akur, makmur, dan misuwur (terkenal/harum namanya). Karena pada akhirnya, sehebat apa pun teknologi becak listrik, kekuatan sejati Blora ada pada guyub rukun rakyatnya.
